_๐„๐œ๐œ๐ž๐๐ž๐ง๐ญ๐ž๐๐ข๐š๐ฌ๐ญ

-fiksi
 Prolog
Rhaditya azzam seorang mahasiswa ilmu Hukum, ya seperti biasanya ini hari di mana rutinitas menggoes sepeda kesayangannya menuju kampus nan jauh di seberang pulau itu. 
seperti hal nya kebiasaan azzam menyukai duduk di kursi paling pinggir ketika menaiki kapal ferry akses penyebrangan , angin laut yang menyibak helaian rambut azzam yang sedikit panjang hingga menutupi hampir separuh matanya  ,sesekali juga menusuk mata, "ah ribet " Alunan musik galau sang musisi laut "hehe keren ya!, musisi laut agak aneh kedengaran nya, ya karna mereka adanya di laut eh bukan laut, kayak bajak laut, istilah bajak biasa ada di persawahan dilakukan oleh petani terkadang juga sapi tugasnya membajak, nah karna pembajakan di laut jadi namanya bajak laut bukan?!,
dengan genre melownya menambah berat pelupuk mata, yaa waktu tempuhnya lumayan lama sekitar 30 menitan cukup untuk terlelap barang sebentar. 

brak""  
Ujung kapal ferry menabrak jembatan dermaga , sontak para penumpang sedikit terhuyung ke depan, dan azzam terbangun dari tidur nya, "alhamdulillah akhirnya sampai juga nih kapal" 
Antrian manusia yang berduyun keluar terlihat begitu sesak.
rhadi hanya menunggu mereka semua keluar, kemudian dia menaiki sepeda nya dan keluar dari kapal, seketika pandangan mata nya tertarik kepada seorang wanita berhijab Merah tua  yang berdiri di tepian menunggu kapal ferry.

Wanita
wajah nya yang di tutupi selembar kain yang hanya menyisakan dua buah bola mata yang berbinar, terlihat dari kerlingan matanya seakan ia sedang tersenyum kepada rhadi, namun rhadi hanya berlalu dan melanjutkan perjalanan menuju koskosan.
"ah kira-kira siapa ya dia, kenapa rasanya tidak asing bagiku" 
Begitulah yang di pikirkan rhadi sepanjang perjalananya, menebak siapa sosok wanita berhijab merah tua yang telah lancang masuk kedalam fikirannya. 

"Aku
aku terlalu takut untuk melupakan, aku tak mencari orang baru untuk menggantikan mu dan masih lagi menunggu kau kembali" 
Tiba-tiba saja kata  itu bergema di dalam fikiran Rhadi, entah apa yang mengganggu nya  sejak dia melihat wanita itu.
rasa yang dulu sempat ada kepada seseorang , seperti kembali tumbuh, meski dia tidak tau siapa wanita berhijab merah tua itu sebenarnya. 

Azzam
 sampai di koskosan, 
"wah sepi ya, sama seperti hatiku ini sepi lagikan sunyi dimanakah engkau wahai bunga hati hehehe" 
Begitulah ocehan nya, jiwa- jiwa puitis yang ia miliki selalu melahirkan ucapan yang bahkan teman- teman nya merasa dia aneh dan penuh kegabutan. 
jam dinding sudah menunjukan pukul lima sore artinya kelas kuliah rhadi akan segera di mulai, dia segera bergegas mengambil absensi ke piket , ya dia Komandan tingkat di kelas nya, hehe sebuah jabatan setara ketua kelas kalo di sekolah, langkah yang tergesa diiringi nafas yang tak beraturan menyusuri lorong panjang itu.

"Assalamu'alaikum permisi pak
permisi pak" Dengan nafas terengah-engah, 
"Waalaikumsalam iya ada apa? 
" Saya mau ambil absennya kelas H. 
"Owh, ini. Sambil menyerahkan beberapa absen
" Terimakasih pak
"Iya, sama-sama
Dia segera balik kanan dan berlari menuju kelas, terlihat dari jauh kelas sudah di mulai, azzam segera masuk. 
" Assalamu'alaikum maaf buk, saya terlambat, soal nya baru turun dari kapal fery
"Waalaikumsalam iya ngak apa-apa, silahkan duduk. 
Kelas pun usai, dia melihat ponsel telah menunjukan pukul enam sore, dan dilanjutkan kelas malam hingga pukul delapan malam.... 

"Bunga hati, aku masih lagi menunggu mu,harap bersanding di ujung waktu,namun jika bukan aku pilihan mu, aku sudah siap akan hal itu,untuk mu bunga hati berwajah sendu. 

Buku harian Rhaditya azzam

Siang itu terasa panas begitu menusuk kulit dan terasa memanaskan isi kepala, kericuhan kota Bengkalis yang tak seberapa besar di banding kota siduarjo, aku sempat beberapa tahun tinggal di kota tersebut dengan berbagai keanehan yang tak pernah ku temukan di kampung, mulai dari jalan tol yang berada bersebrangan dengan rumah tempat tinggal, bahkan sama tinggi dengan atap lantai dua, sudah hal lumrah ketika mobil para orang berpunya lewat debunya terbang dan sampai di rumah rumah di bawah nya, perkampungan itu tidak ilegal mereka punya surat tanah dan hak milik, namun itu lah adanya kota kota besar segala hal bisa bersama dengan tingkat yang berbeda dan tentunya yang di atas melihat betapa kumuh  nya atap berkarat rumah para warga ,sedang mereka yang di bawah melihat betapa luar biasanya otak otak para pejabat membuat jalan mengambang setinggi atap rumah yang menerbangkan debu debu kasih sayang santunan kendaraan para berduit itu.
Huuuhhh sesak kota yang sangat tidak nyaman untuk manusia yang biasa menghirup embun pagi sebening mata ibu ketika memberi nasehat.

Akan ada
ada banyak hal yang menghampiri mu, entah itu suka, duka, tangis, tawa, terkadang juga kita menangis dalam tertawa atau bahkan tertawa padahal nangis. 
Juga banyak personal yang akan kita temui, mulai dari yang kenal karna hal menyenangkan atau kenalnya karna bermasalah sama dia, yaaa semua juga bisa berubah jadi bagaimanapun itu. 
Tapi setelah banyak nya pertemuan, hubungan atau bahkan kisah yang panjang kalo di tulis jadi sebuah fiksi juga akan keren, selalu ada hal yang tertinggal memberikan kesan juga pelajaran berharga, yaa soal mengenang pasti ada, sebab sebuah kerinduan akan senantiasa hadir, seperti hujan tiada yang bisa menghalangi ia meritik dengan segenap kenangan yang ikut jatuh bersamanya, menyirami setiap kehidupan bahkan yang telah mati sekalipun itu hati, sekeras apapun usaha melupakan pasti masih ada sedikit yang tersisa, nikmati saja semua itu, toh engak kamu saja yang begitu, sebuah kenyataan yang harus jelas di fahami bahwa keasingan masih saja menghampiri kita. 
Fenomena 
yaa sebuah hal yang sering ada dan tak jarang menarik perhatian kita, entah apapun bentuknya, apakah itu penting atau hanya hal berita simpang siur saja, dulu juga sempat ada fenomena aneh seperti nanti kalo durhaka di kutuk jadi ikan pari, ada yang jadi ular kepala manusia haha sebuah cerita masa kecil yang sedikit menggelikan kalo di kenang, tapi sedikit kita fahami itu memberikan kesan bahwa ajaibnya ucapan dan doa orang tua meskipun itu di jelaskan dari cara yang sedikit memberikan kesan negatif. 
Setelah bertambahnya umur dan tumbuh besar panjang tubuh ini juga perasaan yang sudah matang rasanya untuk mengarungi cinta aku patah setelah terlambung di kapal asmaranya yang semula aku harapkan menjadi jalan menuju dermaga, hah ternyata aku di lempar di tengah samudra yaa tiba-tiba  saja mereka membuka pintu menyambut awak lama yang serasa merompak kapal dariku setelah kapal itu aku perbaiki dan aku terombang ambing di tengah laut samudra ini, sesekali aku berharap ada kapal lain yang lewat sehingga aku bisa menumpang atau ada pulau untukku beristirahat tapi tenaga ku sudah terkuras aku hanya diam pasrah mengapung menikmati ombak, perlahan ombakpun serasa bersahabat akrab, aku hanya menikmati langit yang tampaknya mulai membiru setelah badai yang penuh suasana mencekam, sebuah pulau tak berpenghuni yang tampak masih belum terjamah manusia di depan sana, perlahan aku merasa semangat berenang kearahnya, sekeping papan mengapung di depanku seakan ingin mempermudah upaya, kugapai papan itu dan terus berenang kearah pulau, hah letih juga sampai di sana aku lelah dan tertidur di sana, bersandar pada pohon kelapa yang tampak lebat dengan daun dan buah yang hijau segar. 

Malam februari 
kipas gantung yang berputar dengan pelan di selir udara dingin hujan malam pada awal bulan ini sesekali tempias airnya menyapa kuduk ku, yaa sebuah suasana di sudut belakang kafe atau lebih tepatnya kedai kopi modern yang dekat dengan bangunan walet, suaranya cukup nyaring berpadu dengan gemericik jatunya air sesekali terdengar obrolan orang ramai, aku duduk betsandar pada sebuah kursi batu yang menjadi pot tanaman lidah mertua, seling sesekali menyeruput kopi sembari jauh bermenung , waktu sudah sangat singkat, ragu- ragu bayang akan sebuah toga dan gelar sarjana yang serasa kabur, yap waktu ku saat ini di penghujung kesempatan mejelang semuanya, tugas tugas akhir yang sedang diusahakan, serba serbi biaya yang kian serasa berdatangan minta di bayari, hanya satunyang bisa aku syukuri aku masih berusaha , pelan tapi aku harap tidak tertinggal, bimbang adalah hal pasti aku bimbang waktu tak lagi bersahabat, aku bimbang terlena, kini aku sampai pada ujung hayalku semua tak akan baik baik saja hanya dengan bermenung, yap lakukan semampunya kalo bisa tak mampu pun di usahakan mampu, takbisa tak ada lagi istilah tak bisa.
Hidup bukan tentang makan minum tidur sahaja, ada banyak hal yang berlaku.




Komentar

  1. Bapak suka tulisNyaa... mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak pak atas apresiasinya,insyaallah menambah semangat kami dalam menulis๐Ÿ˜

      Hapus

Posting Komentar